“Si cacing dan kotoran kesayangannya ” Berbagi sebuah intepretasi…

Di hari minggu sore ini, saya menyempatkan membaca sebuah buku di tepi kolam renang dan saya ingin berbagi makna tersirat dari cerita tersebut.

Si cacing merupakan tokoh dari sebuah buku terjemahan dari penulis Ajahn Brahm yang saya peroleh dari seorang sarjana psikologi sekaligus rekan kerja. Alasan sederhana yang mendasari pemberian buku ini adalah sang psikologi ingin berbagi cerita yang menurut kebanyakan orang sangat menarik untuk dibaca.

Sebelum berbagi intepretasi, saya ingin berbagi bagaimana saya bisa mendapatkan buku tersebut. Setiap awal tahun, kami selalu mengadakan acara tukar kado di kantor. Salah satu tujuannya adalah untuk membangun budaya berbagi kebahagian dari lingkungan terkecil yaitu antar teman di kantor pada setiap awal tahun yang baru. Tahun ini sangat menarik karena ada aturan main baru yang diperkenalkan, yaitu setiap orang punya opsi bagaimana dia akan memperoleh kado. Sedikit berjudi dengan keberuntungan karena setiap orang berkesempatan untuk mendapatkan kado yang dia inginkan walaupun kado tersebut telah menjadi milik temannya yang lain. Dan itu terjadi pada kado yang telah menjadi milik saya.. hmmm.. Saat giliran saya, saya memilih untuk mengambil nomor undian baru dan tidak mengambil kado teman lain. Namun, kado yang saya terima ternyata menarik perhatian teman yang lain sehingga kado tersebut harus melayang ke tangannya. Akhirnya saya mendapat kado baru berupa sebuah buku dengan judul “Si cacingdan Kotoran Kesayangannya” yang merupakan terjemahan dari penulis Ajahn Brahm. Di akhir acara, saya berjanji kepada teman-teman untuk membaca dan membuat intisari dari si cacing… hmmm.. julukan yang menarik yang akan saya pakai selanjutnya.

Si cacing merupakan bentuk reinkarnasi dari seorang Biksu yang terlahir di dalam seonggok kotoran yang menjijikkan. Biksu tersebut mempunyai seorang teman dekat yang sama-sama meninggal, namun dia bereinkarnasi menjadi seorang Dewa di sebuah alam yang surga indah. Ikatan persahabatan yang begitu kuat, membuat Biksu Dewa merasa kehilangan dan segera mencari temannya. Begitu dia mengetahui temannya telah bereinkarnasi menjadi seekor cacing, dia segera berusaha membebaskan temannya dari kelahiran yang mengenaskan walaupun dia tidak mengetahui karma apa yang membawa temannya ke situ.

Ternyata, Biksu Cacing menolak karena di surga tidak ada kotoran yang bisa membuat kenikmatan bagi hidupnya. 108 kali Biksu Dewa mencoba menarik  si cacing tetapi si cacing menggeliat terus menerus dan tetap menolak ajakan Biksu Dewa hanya karena kenikmatann yang diperolehnya dalam kotoran tidak bisa diperolehnya di surga. Akhirnya Biksu Dewa menyerah dan meninggalkan si cacing bodoh di dalam onggokan kotoran kesayangannya. Cerita si cacing mengilustrasikan hidup sebagian dari kita yang memilih untuk menganggap beban hidup sebagai bagian yang tidak bisa terbebaskan atau menganggap ketegangan sebagai penderitaan yang mengasikan. Dalam buku tersebut diilustrasikan bagaimana mereka yang tidak punya cukup masalah untuk dikhawatirkan, mengganggap persoalan tokoh2 fiksi dalam televisi sebagai sesuatu yang layak untuk dikhawatirkan.

Hmm… hidup selalu penuh dengan pilihan. Apapun pilihan kita, semua bergantung pada keinginan dan usaha kita untuk  melepaskan semua ikatan dan belenggu fiksi atau terus menikmati kondisi tersebut seperti si cacing bodoh dan kotoran kesayangannya.

DC |  2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s